Senin, 17 Oktober 2011

iklan0
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di RS

iklan1
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di RS:

Latar Belakang : Masa perinatal dan neonatal merupakan masa yang paling kritis bagi kelangsungan hidup seoarang anak. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya angka kematian perinatal. Sebab kematian langsung perinatal di Indonesia adalah asfiksia, infeksi, prematuritas atau BBLR, trauma persalinan dan cacat bawaan.

Tujuan penelitian : Untuk mengetahui faktor – faktor penyebab asfiksia pada bayi baru lahir di Ruang Aster RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek tahun 2007 – 2008. 

Metode penelitian : Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif. Pengumpulan datanya mengunakan data sekunder, penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 – 22 Juli 2009 terhadap 54 bayi yang menglami asfiksia tahun 2007 – 2008 menggunakan lembar checklist. 

Hasil   :  Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis Penelitian ini menemukan bahwa dari 54 bayi yang mengalami asfiksia didapatkan bahwa fakktor bayi adalah faktor terbanyak penyebab asfiksia pada bayi baru lahir, yaitu sebesar 25 (46,30 %), faktor ibu 19 (35,18%), dan faktor tali pusat 10 (18, 52%).

Kesimpulan :  Bayi yang mengalami asfiksia di Ruang Aster RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek tahun 2007 – 2008 lebih banyak diakibatkan oleh faktor bayi yaitu sebanyak 25 (46, 30%). 

Kata kunci : Faktor – faktor, Asfiksia, Bayi Baru Lahir
Kepustakaan : 15 (2002 – 2009) 

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA


lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di RS
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Siswa SMA Kelas XI Tentang HIV/AIDS di SMA

iklan1
Gambaran Pengetahuan Siswa SMA Kelas XI Tentang HIV/AIDS di SMA:

Latar Belakang Masalah : Kalangan remaja dunia, ibarat hidup dalam era HIV/AIDS. Setiap 14 detik, satu remaja terinfeksi virus HIV/AIDS.  Umumnya informasi yang dimiliki remaja mengenai kesehatan, pencegahan kehamilan, HIV/AIDS serta infeksi yang ditimbulkan akibat hubungan seks sangat kurang.  Dari hasil fenomena yang ada penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa SMA Kelas XI Mengenai HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Kalianda, Lampung Selatan tahun 2009” 

Tujuan Penelitian : untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa SMA kelas XI tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Kalianda, Lampung Selatan tahun 2009.

Metodologi penelitian : Desain Penelitian dilakukan secara deskriptif, dengan pendekatan cross sectional menggunakan data primer.  Dilakukan pada tanggal 22 Juli 2009 terhadap 154 orang responden dimana pengumpulan data menggunakan kuisioner kemudian dianalisa dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi pengetahuan.

Hasil Penelitian : Bahwa pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS secara keseluruhan adalah cukup yaitu sebanyak 79 siswa (51,3%).  Pengetahuan siswa mengenai pengertian HIV/AIDS termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 104 siswa (67,5%), mengenai etiologi HIV/AIDS dalam kategori kurang yaitu sebanyak 53 siswa (34,4%), mengenai penularan HIV/AIDS dalam kategori  baik yaitu 80 siswa (52%), mengenai pencegahan HIV/AIDS dalam kategori cukup yaitu 53 siswa (34,4%), mengenai informasi yang didapat siswa mengenai HIV/AIDS dalam kategori tidak baik yaitu 55 siswa (35,7%), dan mengenai sumber informasi yang diperoleh siswa tentang HIV/AIDS dimana sebanyak 60 siswa (39%) memperoleh informasi tentang HIV/AIDS dari televisi, dua orang siswa (1,3%) mengatakan memperoleh informasi dari radio, bahkan terdapat 2 orang siswa belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS.

Kesimpulan : Setelah dilakukan perhitungan secara keseluruhan ternyata pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Kalianda yang  terbesar adalah kategori cukup (51,3%) dan yang terkecil adalah kategori baik (3,9%).  

Kata Kunci : Pengetahuan, Siswa SMA, HIV/AIDS
Kepustakaan : 23 (2000-2009)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA



lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Siswa SMA Kelas XI Tentang HIV/AIDS di SMA
iklan2

iklan0
Pengetahuan Ibu Postpartum Tentang Infeksi Tali Pusat Di Wilayah Kerja Puskesmas

iklan1
Pengetahuan Ibu Postpartum Tentang Infeksi Tali Pusat Di Wilayah Kerja Puskesmas:

Infeksi merupakan penyebab yang paling ser ing dan penting dalam morbiditas serta  mortalitas,  selama periode bayi baru lahir sebanyak 2% janin mengalami infeksi  in  utero,  dan  lebih  dari  10%  bayi  terinfeksi  selama  persalinan  atau selama  bulan  pertama  kehidupan.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui tingkat  pengetahuan  ibu  postpartum  tentang  infeksi tali pusat, dengan desain penelit ian  deskr iptif.  Populasi  dalam  penelitian   inidi  lakukan  kepada  ibu postpartum  sebanyak  32  orang  dan  seluruhnya  dijadikan   sebagai  sampel. Instrumen penelit ian yaitu kuesioner yang disebarkan langsung pada responden. Analisis  data  dilakukan  secara  univariat  dengan  membahas  tabel  distr ibusi frekuensi dan persentase data  yang  terkumpul.  Hasil penelit ian  menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan cukup m(43,8%), berpengetahuan baik (34,4%), dan masih ditemukan 1,9% responden berpengetahuan kurang. Diharapkan untuk meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada  ibu  hamil  dan  bersalin  tentang  infeksi  tali  pusat  agar  ibu  dapat memberikan perawatan yang maksimal pada bayinya.

Kata kunci: Pengetahuan Ibu Postpartum,  Infeksi Tali Pusat
Daftar Pustaka : 27 (1999 – 2008)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA

lihat artikel selengkapnya - Pengetahuan Ibu Postpartum Tentang Infeksi Tali Pusat Di Wilayah Kerja Puskesmas
iklan2

iklan0
Infeksi Tali Pusat

iklan1
Infeksi Tali Pusat:

Pengertian Infeksi Tali Pusat
Tali pusat  merupakan bagian yang penting untuk diperhatikan pada bayi yang baru lahir.  Bayi yang baru lahir kurang lebih dua menit akan segera di potong tali pusatnya kira-kira dua sampai tiga sentimeter yang hanya tinggal pada pangkal pusat (umbilicus), dan sisa potongan inilah  yang sering terinfeksi Staphylococcus  aereus pada ujung tali pusat akan mengeluarkan nanah dan pada sekitar pangkal tali pusat akan  memerah  dan  disertai  edema  (Musbikin,  2005).  Pada  keadaan infeksi  berat,  infeksi dapat  menjalar  hingga  ke  hati  (hepar)  melalui ligamentum (falsiforme)  dan  menyebabkan abses yang berlipat ganda.

Pada   keadaan   menahun   dapat   terjadi   granuloma   pada   umbilikus(Prawirohardjo, 2002).
Infeksi  tali  pusat  adalah  suatu  penyakit  toksemik  akut  yang disebabkan  oleh clostridium tetani dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran (Mieke, 2006).

Faktor-faktor Penyebab Infeksi Tali Pusat
Faktor-faktor  yang  menyebabkan  terjadinya  infeksi  tali  pusat pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
a.   Faktor kuman
Staphylococcus  aereus  ada  dimana-mana  dan  didapat  pada masa  awal kehidupan  hampir  semua  bayi,  saat  lahir  atau  selama masa perawatan.  Biasanya Staphylococcus aereus sering dijumpai pada  kulit,  saluran  pernafasan,  dan  saluran  cerna  terkolonisasi. Untuk pencegahan terjadinya  infeksi tali pusat sebaiknya tali pusat tetap  dijaga kebersihannya,  upayakan tali  pusat  agar tetap kering dan  bersih, pada saat  memandikan  di  minggu  pertama  sebaiknya jangan merendam bayi langsung ke dalam air mandinya karena akan menyebabkan basahnya tali pusat dan memperlambat proses pengeringan tali pusat. Dan masih banyak penyebab lain yang dapat memperbesar  peluang  terjadinya  infeksi  pada  tali  pusat   seperti penolong persalinan yang kurang menjaga kebersihan terutama pada alat-alat   yang   digunakan   pada   saat   menolong   persalinan   dan khususnya  pada  saat  pemotongan  tali  pusat.  Biasakan  mencuci tangan untuk pencegahan terjadinya infeksi (Danuatmadja, 2003).

b.  Proses persalinan
Persalinan  yang  tidak  sehat  atau  yang  dibantu  oleh  tenaga  non medis. Kematian bayi yang diakibatkan oleh tetanus ini terjadi saat pertolongan   persalinan   oleh   dukun   pandai, terjadi   pada saat memotong tali pusat menggunakan  alat yang tidak steril dan tidak diberikan obat antiseptik.

c. Faktor tradisi
Untuk  perawatan  tali  pusat  juga  tidak  lepas  dari  masih  adanya tradisi   yang   berlaku  di  sebagian  masyarakat  misalnya  dengan memberikan   berbagai   ramuan-ramuan  atau   serbuk-serbuk   yang dipercaya bisa membantu mempercepat kering dan lepasnya potongan tali pusat.  Ada yang mengatakan tali pusat bayi itu harus diberi abu-abu pandangan seperti inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan  karena   justru  dengan  diberikannya  berbagai  ramuan tersebut  kemungkinan  terjangkitnya  tetanus  lebih  besar  biasanya penyakit   tetanus   neonatorum  ini   cepat   menyerang   bayi,   pada keadaan infeksi berat  hanya beberapa hari  setelah persalinan  jika tidak  ditangani  biasa  mengakibatkan  meninggal   dunia   (Mieke,2006).

Tanda dan Gejala Infeksi Tali Pusat
Tanda-tanda yang perlu dicur igai oleh orang tua baru adalah apabila  timbul bau  menyengat  dan  terdapat  cairan  berwarna  merah darah  atau  bisa  juga  berbentuk  nanah  di  sisa  tali  pusat  bayi.  Hal tersebut  menandakan  sisa  tali pusat  mengalami  infeksi,  lekas  bawa bayi   ke   klinik   atau   rumah   sakit,   karena   apabila infeksi   telah merambat  ke  perut  bayi,  akan  menimbulkan  gangguan  serius  pada bayi (Febrina, 2006)
Manifestasi kebanyakan  infeksi staphylococcus  pada  neonatus adalah  tidak  spesifik,  bakteremia  tanpa  kerusakan  jaringan  setempat dikaitkan  dengan  berbagai  tanda,  berkisar  dari  yang  ringan  sampai dengan  keadaan  yang  berat.  Distress  pernafasan,  apnea,  bradikardia, abnormalitas saluran cerna, masalah termoregulasi, adanya perfusi yang buruk,  dan disfungsi serebral  merupakan  hal  umum.  Infeksi spesifik yang disebabkan oleh staphylococcus aereus meliputi pneumonia, efusi pleural,  meningitis,  endokarditis,  omfalitis,  abses,  dan  osteomielitis (Wahab, 2000).
Bayi yang terinfeksi tali pusatnya, pada tempat tersebut biasanya akan  mengeluarkan nanah dan pada bagian sekitar pangkal tali pusat akan terlihat  merah dan  dapat  disertai dengan  edema.  Pada keadaan yang berat infeksi dapat  menjalar ke hati (hepar) melalui ligamentum falsiforme dan menyebabkan abses  yang berlipat ganda. Pada keadaan menahun  dapat  terjadi  granuloma  pada  umbilikus  (Prawirohardjo,2002).

Jika  tali  pusat  bayi  bernanah  atau  bertambah  bau,  berwarna merah, panas, bengkak, dan ada area lembut di sekitar dasar tali pusat seukuran uang  logam seratus rupiah, ini merupakan tanda infeksi tali pusat (Sean, 2004).

Pencegahan dan Penanganan Infeksi Tali Pusat a.  Pencegahan
Untuk pencegahan awal tetanus dapat  diberikan pada calon pengantin dengan harapan bila setelah menikah dan hamil tubuhnya sudah punya antitoksin tetanus yang akan ditransfer ke janin melalui plasenta.  Seorang wanita  yang  sudah  diimunisasi  tetanus  2  kali dengan   interval  4-6   minggu   diharapkan   mempunyai   kekebalan terhadap tetanus selama tiga  tahun imunisasi TT diberikan juga pada ibu  hamil,  diberikan  2  kali  pada  trimester  kedua  dengan  interval waktu 4-6 minggu diharapkan dapat memberikan kekebalan selama tiga tahun sehingga jika si ibu hamil kurun waktu tiga tahun itu tidak diberikan  imunisasi  TT  atau satu kali saja  imunisasi sudah cukup (Erikania, 2007). Agar tali pusat tidak terinfeksi, perlu dilakukan inspeksi tali pusat,   klem   dilepas,  dan  tali  pusat  diikat  dan  dipotong  dekat umbilikus  kurang   dari  24  jam  setelah  bayi  lahir. Ujung  dari potongan diberikan krim klorheksidin untuk mencegah infeksi pada tali pusat, dan tidak perlu dibalut dengan kasa dan dapat hanya diberi pengikat tali pusat  atau  penjepit tali pusat yang terbuat dari plastik (Penny, 2008).

Dalam keadaan normal, tali pusat akan lepas dengan sendirinya dalam waktu lima sampai tujuh hari. Tapi dalam beberapa kasus  bisa  sampai dua  minggu  bahkan  lebih  lama.  Selama  belum pupus, tali pusat  harus  dirawat  dengan baik. Agar tali pusat tidak infeksi,  basah,  bernanah,  dan   berbau.  Bersihkan  tali  pusat  bayi dengan  sabun  saat  memandikan  bayi.   Keringkan  dengan  handuk lembut. Olesi dengan alkohol 70%. Jangan pakai  betadine, karena yodium yang dikandung betadine dapat masuk ke peredaran  darah bayi  dan  menyebabkan  gangguan  pertumbuhan  kelenjar  gondok. Biarkan terbuka hingga kering, dapat dibungkus dengan kasa steril. Jangan  mengolesi tali pusat  dengan ramuan atau  menaburi bedak, karena  dapat   menjadi  media  yang  baik  bagi  tumbuhnya  kuman, termasuk kuman tetanus (Wartamedika, 2006).
Untuk penggantian popok, sebaiknya popok yang telah basah segera  diganti untuk  menghindari iritasi tali pusat,  area tali pusat jangan  ditutup   dengan  popok  atau  celana  plastik  dan  bila  bayi menggunakan popok langsung pakai saja (Sean, 2002).
Pencegahan pada  infeksi tali pusat  dapat  dilakukan dengan perawatan tali pusat yang baik. Jika di tempat perawatan bayi banyak penyebab  infeksi dengan staphylococcus aereus maka perawatan tali pusat dapat dilakukan sebagai berikut :

1)  Setelah  tali  pusat  dipotong,  ujung  tali  pusat  diolesi  dengan tincture jodii.
2)  Tangkai tali pusat / pangkal tali pusat dan kulit di sekeliling tali pusat  dapat   diolesi  dengan  triple-dye  (triple  dye  ini  adalah campuran brilliant green  2,29 g, prylapine bemisulfate 1,14 g, dan crystal violet 2,29 g yang dilarutkan dalam satu liter air), jika obat-obat ini tidak ada dapat pula digantikan dengan merkurokrom.
3)  Atau  tali  pusat  cukup  ditutupi  dengan  kasa  steril  dan  diganti setiap hari (Prawirohardjo, 2002).

b.  Penanganan
Infeksi pada bayi dapat merupakan penyakit yang berat dan sangat sulit diobati. Jika tali pusat bayi terinfeksi oleh Staphylococcus  aereus,  sebagai  pengobatan  lokal  dapat  diberikan salep  yang  mengandung  neomisin  dan  basitrasin.  Selain  itu  juga dapat  diberikan salep  gentamisin. Jika terdapat  granuloma, dapat pula  dioleskan  dengan  larutan  nitras  argenti  3%  (Prawirohardjo,2002).

1)  Infeksi tali pusat lokal atau terbatas
Jika tali pusat bengkak, mengeluarkan nanah, atau berbau busuk, dan di  sekitar tali pusat kemerahan dan pembengkakan terbatas pada  daerah≤  1  cm  di  sekitar  pan gk   al  tali  pusat  lokal  atau terbatas.

Cara penanganannya :
a)  Biasakan  untuk  selalu  mencuci  tangan  sebelum  memegang atau membersihkan tali pusat, untuk mencegah berpindahnya kuman dari tangan.
b)  Bersihkan tali pusat menggunakan larutan antiseptik (misalnya  klorheksidin  atau  iodium  povidon  2,5%)  dengan kain kassa yang bersih.
c)  Olesi   tali   pusat   pada   daerah   sekitarnya   dengan   larutan antiseptik (misalnya gentian violet 0,5% atau iodium povidon
2,5%) delapan kali sehari sampai tidak ada nanah lagi pada tali  pusat.   Anjurkan  bayi  melakukan  ini  kapan  saja  bila memungkinkan.
d)  Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm, obati seperti infeksi tali pusat berat atau meluas.

2)  Infeksi tali pusat berat atau meluas
Jika  kulit  di  sekitar  tali  pusat  merah  dan  mengeras  atau  bayi mengalami distensi abdomen, obati sebagai tali  pusat berat atau meluas.
Cara penanganannya :
a)  Ambil   sampel   darah   dan   kirim   ke laboratorium   untuk pemeriksaan kultur dan sensivitasi.
b)  Beri kloksasilin per oral selama 5 hari.
c)  Jika terdapat pustule / lepuh kulit dan selaput lendir. d)  Cari tanda-tanda sepsis.
e)  Lakukan perawatan umum seperti dijelaskan untuk infeksi tali pusat lokal atau terbatas.

lihat artikel selengkapnya - Infeksi Tali Pusat
iklan2

iklan0
Metode Kanguru dalam Perawatan Bayi Prematur

iklan1
Metode Kanguru dalam Perawatan Bayi Prematur:

Teknik  kanguru  merupakan  sebuah  metode  perawatan  yang  tersedia  secara universal dan baik secara biologi bagi semua bayi baru lahir, akan tetapi biasanya bagi bayi-bayi prematur dengan 3  komponennya yang meliputi kontak kulit dengan kulit, menyusui eksklusif dan dukungan terhadap ibu dan bayi.

Teknik kanguru adalah kontak langsung dengan kulit ibu dan bayi prematur yang dilakukan sejak  dini dan berkelanjutan baik selama masih di rumah sakit maupun di rumah, disertai pemberian ASI  eksklusif dan pemantauan terhadap tumbuh kembang bayi.

Komponen Metode Kanguru
Pada awalnya metode kanguru ini terdiri dari 3 komponen yaitu :
a. Posisi kanguru
Yaitu bayi prematur yang telah memenuhi kriteria untuk dirawat dengan metode diletakkan dengan posisi vertikal di antara kedua payudara ibu. Bayi hanya mengenakan popok dan penutup kepala, sehingga di harapkan sebanyak mungkin akan terjadi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi. Posisi  ini dipertahankan baik ibu dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring sehingga di harapkan  terjadi kontak langsung yang terus menerus selama 24 jam atau beberapa jam dalam sehari.

b. Nutrisi kanguru
Makanan yang terbaik untuk bayi prematur adalah ASI. Pemberian ASI bisa secara   langsung   kalau  bayi  sudah  siap.  Cara  lain  untuk  ASI  yang  diperas  bisa diberikan dengan gelas, sendok, spuit bilamana bayi belum siap menghisap.

c. Dukungan kanguru
Dengan metode ini diharapkan rasa cemas ibu akan berkurang dan tumbuh rasa percaya diri ibu. Untuk itu di perlukan dukungan dari keluarga, masyarakat sekitarnya, dan yang sangat penting dari petugas kesehatan. Dukungan di sini bisa dalam bentuk dukungan emosi, fisik, dan pendidikan.

d. Pemulangan
Selama  masih  dalam  perawatan,  ibu  diperkenalkan  dengan  metode  kanguru dengan harapan dia paham dan mau melakukan perawatan bayi dengan metode ini. Bayi yang  di  rawat  dengan  metode  kanguru  akan  pulang  lebih  awal dan  biaya  yang  di keluarkan lebih rendah serta beban tugas  kesehatan menjadi lebih ringan.

Manfaat Metode Kanguru
Adapun manfaat  dalam metode kanguru, bagi bayi yaitu : suhu tubuh stabil ( 36,5-37 ˚ C ), detak jantung janin relatif stabil sekitar 140-160/menit, tidur lebih lelap, kenaikan  berat  badan  lebih  cepat,  jarang  timbul  infeksi  yang  serius,  dan  bayi  di perlakukan lebih manusiawi; bagi ibu :  berkurangnya stres, merasa lebih percaya diri, mampu merawat bayi kecil, merasa diberdayakan dalam perawatan bayinya, terjalinnya ikatan batin yang kuat antara ibu dan bayi, meningkatkan pemberian ASI; bagi petugas kesehatan : kebutuhan tenaga dan peralatan bisa lebih ditekankan, bayi bisa di pulangkan lebih awal, biaya perawatan lebih murah, beban petugas dalam merawat bayi menjadi lebih ringan.

Waktu untuk Memulai Metode Kanguru
Metode kanguru bisa dimulai apaabila ibu dan bayi sudah merasa cukup sehat. Pada bayi  normal metode ini bisa dimulai segera setelah pemotongan tali pusat dan perawatan  tali  pusat.   Untuk  bayi  prematur  yang  sering  terjadi  komplikasi  maka sebaiknya  ditunda  sampai  kondisi  bayi  stabil.  Jadi  saat  yang  tepat  untuk  memulai metode ini sangat individual tergantung umur kehamilan,  berat lahir, umur postnatal, beratnya penyakit yang diderita bayi dan kondisi ibu. WHO (2002) membuat pedoman berdasarkan berat badan dan umur kehamilan yaitu : bayi dengan berat 1800 gram atau lebih,  dengan  umur  kehamilan  >  30-34  minggu,  perlu  dilakukan  perawatan  khusus terlebih  dahulu setelah kondisi bayi membaik maka bisa dilakukan metode kanguru. Berat  badan 1200-1799  gram, dengan umur kehamilan 28-32  minggu  harus dirujuk sebelum lahir dan perlu waktu seminggu  atau lebih untuk bisa memulai metode ini. Berat  badan  <  1200  gram,  umur  kehamilan  <  30   minggu  membutuhkan  waktu berminggu-minggu untuk memulai metode ini.

Lamanya Metode Kanguru Dilakukan
Berdasarkan  lamanya  metode  ini  dilakukan  metode  kanguru  dibagi  menjadi intermiten dan kontinyu. Intermiten maksudnya bayi yang masih memerlukan perawatan konvensional (Inkubator) dikeluarkan dari inkubator untuk beberapa saat dirawat dengan metode kanguru, setelah itu kembali lagi ke inkubator. Usahakan pada awalnya jangan kurang dari 60 menit  dengan posisi kanguru, kalau  kurang  akan menggangu waktu istirahat bayi  dan bayi akan stres. Kontinyu berarti dilakukan berangsur-angsur sampai
24 jam. Bayi dikeluarkan dari gendongan bila akan mengganti popok, perawatan tali pusat atau perlu  pemeriksaan dokter, dan jika ibu akan mandi. Selama lepas dari ibu, bayi dibungkus rapat agar tidak  kedinginan atau bisa diserahkan   pada suami, nenek, atau  saudara  yang  lain.  Metode  kanguru  ini   dilakukan  sampai  bayi  sudah  tidak menginginkannya lagi. Ini ditandai dengan bayi menjadi gelisah, rewel, selalu bergerak saat berada dalam posisi kanguru. Biasanya ini terjadi setelah bayi mencapai berat badan 2500 gram atau umur kehamilan 40 minggu.

Persiapan yang Diperlukan untuk Melakukan Metode Kanguru
Persiapan yang dilakukan untuk melakukan metode kanguru menyangkut 3 hal, yaitu : 1) ibu  dan bayi : kondisi dan keberadaan ibu setelah melahirkan merupakan persyaratan utama. Harus ada pengganti ibu yang secara fisik dan mental sehat, mampu dan mau melakukan perawatan metode kanguru. Bayi setelah melewati masa krisis dan dalam keadaan yang stabil sudah bisa dirawat oleh  ibunya dengan metode kanguru. Pakaian  ibu  dan  bayi  tidak  memerlukan  pakaian  yang  khusus,   Hanya  ibu  harus mengenakan  baju  yang  terbuka  didepan.  Untuk  bayinya  hanya  popok  dan  penutup kepala. Agar posisi bayi tetap melekat ke dada ibu, diiluar baju ibu bisa diikat dengan kain panjang dan jangan terlalu menekan perut ibu agar bayi bisa bernafas. 2) tempat atau instansi :  metode  kanguru  bisa dilakukan pada tempat  pelayanan persalinan di tingkat paling bawah (rumah bersalin, Polindes, Puskesmas dengan perawatan) sampai rumah  sakit  rujukan.  Harus  ada  kebijakan  tertulis  di  tingkat  nasional,  daerah,  dan institusi yang bersangkutan dari pimpinan yang menyatakan metode  kanguru sebagai salah satu metode alternatif bagi perawatan bayi   prematur.   Perlu dilakukan evaluasi atas pelaksanaan metode ini. 3) dukungan lingkungan : untuk keberhasilan metode ini diperlukan  dukungan  dari  petugas  selama  masih  berada  di  rumah  sakit.  Di  rumah dukungan pihak keluarga sangat diperlukan termasuk agar ibu diberi kesempatan untuk banyak istirahat, tidur yang cukup,  aktivitasnya hanya yang berkaitan dengan bayinya.

Petunjuk Pelaksanaan Metode Kanguru
Petunjuk pelaksanaan metode kanguru ini yaitu : 1) setelah mencuci tangan ibu mengenakan  baju kanguru atau baju biasa yang terbuka didepan. 2) bayi diletakkan tegak diantara kedua payudara ibu. 3) kepala bayi dipalingkan ke arah kiri atau kanan, sehingga bayi  mendengar detak jantung ibunya,  leher bayi dalam posisi ekstensi. 4) kenakan kancing baju ibu. 5) agar posisi ibu tidak berubah gunakan kain panjang yang melilit tubuh ibu (usahakan tidak menekan  perut bayi). Posisi ini dipertahankan terus baik ibu dalam posisi duduk, berdiri maupun berbaring. Bila  ibu berbaring hendaknya tempat tidur di bagian hulu ditopang dengan bantal sehingga posisi kepala  bayi lebih tinggi dari badannya. Ini diperlukan agar bayi tidak muntah.

lihat artikel selengkapnya - Metode Kanguru dalam Perawatan Bayi Prematur
iklan2

iklan0
Beberapa definisi seputar kebidanan

iklan1
Beberapa definisi seputar kebidanan:

Kebidanan/ Midwifery
Merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (multi disiplin) yang berkaitan  dengan pelayanan kebidanan, meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu budaya, llmu kesehatan masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat memberi pelayanan kepada ibu dalam masa prakonsepsi, masa hamil, ibu besalin, post partum, bayi baru lahir. Pelayanan tersebut meliputi pendeteksian keadaan abnormal pada ibu& anak, melaksanakan  konseling & pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

Pelayanan Kebidanan (Midwifery Services)
Adalah seluruh tugas yang menjadi tanggungjawab praktek profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan  yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu & anak dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat

Praktek Kebidanan
Adalah penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan pelayanan/ asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan manajemen kebidanan

Manajemen kebidanan
Adl pendekatan yg digunakan o/ bidan dlm menerapkan metoda pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, menentukan masalah dan diagnosa potensial, menetukan tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi

Asuhan kebidanan
Adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadikan tanggungjawab dalam memberikan pelayanan pada klien yang mempunyai kebutuhan/ masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil,  masa persalinan, nifas, bayi baru lahir serta keluarga berencana

lihat artikel selengkapnya - Beberapa definisi seputar kebidanan
iklan2

iklan0
Teknik Pemeriksaan Palpasi Kehamilan

iklan1
Teknik Pemeriksaan Palpasi Kehamilan:

Pemeriksaan palpasi dilakukan menurut Leopold , Leopold I sampai IV.

Pemeriksaan yang sifatnya membantu Leopold adalah:
a.Membantu Leopold II
Pada letak membujur, untuk menentukan dimana punggung janin.
Tekniknya fundus uteri didorong ke bawah, badan akan melengkung sehingga punggung mudah ditetapkan.

Pemeriksaan menurut Ahlfeld.
Janin dengan  letak membujur didorong ke salah satu sisi sehingga janin mengisi ruang yang lebih terbatas sehingga pemeriksaan punggung lebih mudah dilakukan.

b.Membantu pemeriksaan Leopold III
Dengan pemeriksaan Kneble
Dengan memahami  pemeriksaan Leoplod dengan baik, sehingga dapat menetapkan kedudukan janin.
1. Tahap  persiapan  pemeriksaan Leopold
a. Penderita tidur telentang dengan kepala lebih tinggi
b. Tangan diatas kepala atau disamping badan
c. Kaki ditekuk
d. Perut dibuka sebelumnya
e. Pemeriksa  menghadap muka  pada Leopold 1-III, Leopold IV pemeriksa menghadap ke kaki

2. Tahap  Pemeriksaan Leopold
a. Leopold I
Kedua telapak tangan di fundus uteri, untuk menentukan:
- TFU : menentukan umur kehamilan
- Bagian yang terletak di fundus.
Letak sungsang: teraba bulat, keras, melenting.
Letak kepala: teraba bokong: besar, lunak, tidak melenting
Letak lintang : fundus uteri tidak diisi bagian- bagian janin

b. Leopold II
Kedua telapak tangan turun menelusuri tepi uterus untuk menentukan bagian apa yang ada disamping.
Letak membujur: menentukan punggung janin, teraba seperti papan
Pada letak lintang ditetapkan dimana kepala janin.

c. Leopold III
Menentukan bagian apa yang ada disimpisis pubis
- Kepala : teraba bulat, keras, melenting
- Bokong: teraba besar, lunak, tidak melenting
- Letak lintang; simpisis pubis akan kosong

d. Leopol IV
Pemeriksa menghadap ke kaki penderita, untuk menentukan bagian terendah janin masuk pintu atas panggul.
Convergen: belum masuk PAP
Divergen : sudah masuk PAP

Pemeriksaan Pembantu Leopold
1.Pemeriksan Budine
Dipergunakan pada letak membujur, untuk lebih menetapkan dimana punggung janin
Teknik: Fundus uteri didorong ke bawah, badan janin akan melengkung sehingga punggung mudah ditetapkan.

2.Pemeriksaan Ahlfeld
Janin dengan letak membujur didorong ka salah satu sisi sehingga janin mengisi ruangan yeng lebih terbatas. Dengan mendorong janin ke satu arah, maka pemeriksaan punggung janin lebih mudah dilakukan

3.Pemeriksaan Kneble
Pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan Leopol III.

lihat artikel selengkapnya - Teknik Pemeriksaan Palpasi Kehamilan
iklan2

iklan0
Perdarahan Setelah Bayi Lahir

iklan1
Perdarahan Setelah Bayi Lahir:

Prinsip Dasar

Definisi Perdarahan  pasca persalinan adalah perdarahan yang melebihi 500 ml. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang terjadi karena tercampur dengan air ketuban dan serapan pakaian  atau kain alas tidur. Oleh sebab itu  maka batasan operasional untuk periode paca persalinan adalah setelah bayi lahir. Sedangkan tentang jumlah perdarahan, disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital (pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik < 90 mmhg, nadi >100 x/ menit, kadar Hb < 8 gr %). Perdarahan  setelah bayi lahir dapat disebabkan oleh: perdarahan pascapesalinan primer (P3), atonia uteri, retensio plasenta, ruptuur jalan lahir (ruptuur perineum, robekan dinding vagina dan robekan serviks). Pada kesempatan ini dibahas mengenai  perdarahan  akibat atonia uteri.

Masalah
Perdarahan setelah bayi lahir dan dalam 24 jam pertama persalinan
Perdarahan setelah 24 jam persalinan

Penanganan umum
  • Diketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal
  • Pimpin persalinan dengan mengacu  pada persalinan yang bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pasca persalinan)
  • Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca salin (diruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadual hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung)
  • Selalu siapkan keperluan tindakan  gawat darurat
  • Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan  dengan masalah dan komplikasi
  • Atasi syok
  • Pastikan kontraksi berlangsung dengan baik (keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan uterus, beri uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infuse   20 IU dalam 500 cc RL  dengan 40 tetesan permenit)
  • Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir
  • Bila perdarahan terus berlangsung , lakukan uji beku darah
  • Pasang kateter menetap dan pantau masuk- keluar cairan
  • Cari penyebab perdarahan dan lakukan tindakan spesifik.

Jenis uterotonika dan cara pemberianya
Jenis dan cara
Oksitosin
Ergometrin
Misoprostol
Dosis dan cara pemberian awal
IV: 40 unit dalam 1 larutan garam fisiologis dan tetesan cepat
IM: 10 unit
IM atau IV (lambat) 0,2 mg
Oral atau rectal 400 mg
Dosis lanjutan
IV: 20 unit dalam 1 larutan garam fisiologis dengan 40 tetes permenit
Ulangi 0,2 mg IM setelah 15 menit.
Bila masih diperlukan beri IM/IV setiap 2- 4 jam
400 mg 2-4 jam setelah dosis awal

Dosis maksimal perhari
Tidak lebih 3 larutan dengan oksitosin
Total 1 gram atau 5 dosis
Total 1200 mg atau 3 dosis
Indikasi kontra atau hati - hati
Pemberian IV secara cepat atau bolus
Preeklamsi, vitium cordis, hipertensi
Nyeri kontraksi, Asma
Penilaian Klinik
GEJALA DAN TANDA
PENYULIT
DIAGNOSIS KERJA
§      Uterus tidak berkontraksi dan lembek
§      Perdarahan segera setelah anak lahir (Perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)
§      Syok
§      Bekuan darah pada serviks atau posisi telentang akan menghambat aliran darah keluar
§      Atonia uteri
§      Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir (P3)
§      Uterus berkontraksi dan keras
§      Plasenta lengkap
§      Pucat
§      Lemah
§      Menggigil
§      Robekan jalan lahir
§      Plasenta belum lahir setelah 30 menit
§      Perdarahan segera (P3)
§      Uterus berkontraksi dan keras
§      Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
§      Invesio Uteri akibat tarikan
§      Perdarahan lanjutan
§      Retensio plasenta
§      Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap
§      Perdarahan segera (P3)
§      Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
§      Tetinggalnya sebagian plasenta


§      Uterus tiadak teraba
§      Lumen vagina terisi massa
§      Tampak tali pusat (bila plesenta belum lahir)
§      Neurogenik syok
§      Pucat dan limbung
§      Inversio uteri
§      Sub- involusi uterus
§      Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus
§      Perdarahan sekunder
§      Lokia mukopurulen dan berbau (bila diserta infeksi)
§      Anemia
§      Demam
§      Endometritis atau sisa fragmen plasenta (terinfeksi atau tidak)

lihat artikel selengkapnya - Perdarahan Setelah Bayi Lahir
iklan2

iklan0
Peredaran Darah Janin

iklan1
Peredaran Darah Janin:

Peredaran darah janin berbeda dengan sistem peredaran darah orang dewasa karena paru- paru janin belum berkembang sehingga O2 diambil melalui perantara plasenta. Oleh karena  peredaran darah janin ditentukan oleh:
1. Foramen Ovale antara kedua atrium
2. Duktus Arteriosus Bothalli antara arteri pulmonalis dengan aorta
3. Duktus Venusus Arantii di dalam hepar menuju vena cava inferior.
4. Pada umbilikus terdapat  satu vena  dan dua arteri umbilikus.

Peredaran darah janin berlangsung sebagai berikut.
  1. Darah yang kaya dengan nutrisi dan O2 dialirkan melalui vena umbilikus menuju hati, dimana terdapat duktus venusus Arantii, langsung menuju dan masuk ke  vena cava inferior lalu masuk ke atrium kanan  jantung janin
  2. Dari atrium kanan janin sebagian besar darah masuk ke atrium kiri melalui foramen ovale
  3. Sebagian kecil darah dari atrium kanan masuk ke ventrikel kanan
  4. Darah  yang masuk ke atrium kiri  akan di pompa ke ventrikel kiri dan dari ventrikel kiri di pompa masuk ke aorta dan selanjutnya dialirkanke seluruh tubuh janin
  5. Cabang aorta di bagian bawah menjadi dua arteri hipogastrika interna, yang mempunyai cabang arteria umbilikalis.
  6. Darah dari ventrikel kanan di pompa menuju paru- paru, tetapi karena paru- paru belum berkembang maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis dialirkan menuju aorta melalui duktus arteriosus Bothalli.
  7. Darah yang dialirkan menuju paru- paru akan dialirkan kembali menuju jantung  melalui vena pulmonalis
  8. Darah yang menuju plasenta melalui arteri umbilikalis terpecah menjadi kapiler untuk mendapat nutrisi dan O2 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin
  9. Sisa mertabolisme janin dan CO2 dilepaskan ke dalam sirkulasi retroplasenter untuk selanjutnya di buang melalui alat pembuangan yang terdapat di tubuh ibu.

Faktor penting yang mengubah peredaran darah janin menuju peredaran darah  dewasa ditentukan:
  1. Berkembangnya paru- paru janin. Berkembangnya paru menyebabkan tekanan negatif dalam paru sehingga dapat menampung darah, u/ melakukan pertukaran CO2 dan 02 dari udara. Dengan demikian duktus arteriosus Bothalli tidak berfungsi dan akan mengalami obliterasi.  Tekanan dalam atrium kiri makin meningkat, sehingga dapat menutup foramen ovale. Tekanan yang tinggi pada atrium kiri disebabkan  darah yang mengalir ke atrium kanan, kini langsung menuju paru- paru dan dialirkan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Dua faktor ini yang menyebabkan tekanan di atrium kiri meningkat.
  2. Terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin dengan dipotongnya tali pusat. Pemotongan tali pusat di lakukan setelah bayi menangis atau  tali pusat berhenti berdenyut, karena dapat menambah darah sekitar 50-75 ml dari plasenta yang sangat berarti bagi pertumbuhan janin.
  3. Membuat Adult hemoglobin (tipe A)  sehingga siap melakukan pertukaran Co2 dan O2 melalui paru- paru. Menjelang persalinan disiapkan membuat adult hemoglobin (A) sehingga setelah lahir langsung dapat menangkap 02 dan melepaskan CO2 melalui pernafasan.


lihat artikel selengkapnya - Peredaran Darah Janin
iklan2

iklan0
Model Kesehatan Untuk Semua (Health For All)

iklan1
Model Kesehatan Untuk Semua (Health For All):

Model ini di perkenalkan WHO sejak tahun 1978. Model ini memungkinkan focus ditujukan pada wanita tersebut, keluarga dan komunitasnya. Model ini juga memberi kesempatan untuk  komunikasi antara bidan dari berbagai Negara. Pengaruh tersembunyi dari model ini pada kebanyakan kebijakan adalaha nyata dan ini mempunyai konsekuensi yang penting bagi praktek kebidanan.

Falsafah pokok yang mendasari dari model konsep ini  dinyatakan dalam DEKLARASI ALMA ALTA  tahun 1978 dan adalah suatu pernyataan yang mendukung definisi WHO tentang sehat. Sehat  (WHO) adalah suatu keadaan sejahtera secara fisik, mental dan social yang sempurna dan tidak hanya karena bebas dari penyakit  atau kecacatan. 
Sehat adalah hak azasi manusia yang fundamental dan pencapaian ketingkat yang tertinggi dari kesehatan yang dimungkinkan adalah tujuan social yang paling penting diseluruh dunia  yang realisasinya menuntut tindakan dari banyak sektor dan ekonomi disamping sektor kesehatan (WHO 1988).

Ewles dan Simnett (1992) mengidentifikasi 5 thema dalam gerakan Kesehatan Untuk Semua:
  • Kurangi ketidaksetaraan dalam kesehatan
  • Kesehatan positif melalui promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
  • Partisipasi masyarakat
  • Kerjasama antara otoritas kesehatan , otoritas local dan lain- lainnya yang mempunyai pengaruh terhadap kesehatan
  • Fokus pada kesehatan primer sebagai basis utama dari system kesehatan.

Kesehatan primer dilukiskan  sebagai kendaraan untuk kesehatan, suatu pandangan yang sangat kontras dengan model medical yang berfokus pada ketentuan spesialistik, pelayanan berbasis dirumah sakit (Mac Donald, 1993)

Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Halth Care) adalah suatu pelayanan kesehatan yang essensial berdasarkan ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan  dan dapat diterima oleh masyarakat dan secara teknis dapat diterima  secara universal untuk individu maupun keluarganya dalam masyarakat  melalui partisipasi penuh dan dengan biaya yang dapat dijangkau oleh masyarakat dan negerinya  untuk mempertahankan setiap tingkatan dalam perkembangan dalam semangat mandiri dan menentukan nasib sendiri. Itu membentuk  suatu bagian integral dari system pelayanan kesehatan. Yang mana fungsi  sentral dan focus utama, dan pengembangan menyeluruh  secara social dan ekonomi masyarakat itu. Itu adalah kontak lapis pertama dari individu, masyarakat dengan system kesehatan nasional membawa kesehatan sedekat mungkin dimana orang hidup  dan bekerja dan membentuk unsur  perta dari suatu proses pelayanan kesehatan berkesinambungan (WHO, 1988)

Model Kesehatan Untuk Semua/HFA dan definisi dari Pelayanan Kesehatan Primer meliputi 5 konsep (WHO 1988):
  1. Keadilan ketentuan pelayanan kesehatan oleh pencakupan universal dari populasi dengan pemberian pelayanan berdasarkan kebutuhan.
  2. Pelayanan harus promotive, preventive, curative dan rehabilitatif dan beragam pelayanan yang terintegrasi (pelayanan dibawah satu atap).
  3. Pelayanan harus efektif dan dapat diterima secara cultural, terjangkau dan dapat ditangani, jadi  pelayanan harus memenuhi  kebutuhan dalam cara yang dapat diterima oleh populasi tersebut dan pelayanan harus dimonitor dan ditangani secara  efektif.
  4. Masyarakat harus dilibatkan dalam pengembangan, ketentuan dan monitor dari pelayanan, jadi pengadaan pelayanan kesehatan adalah tanggungjawab seluruh masyarakat dan kesehatan dilihat sebagai suatu kontribusi terhadap perkembangan masyarakat secara keseluruhan.
  5. Kolaborasi secara intersektoral yaitu bahwa kesehatan dan pelayanan kesehatan tidak melulu  tergantung pada pelayanan kesehatan tetapi juga sipengaruhi oleh factor- factor lain seperti perumahan, polusi lingkungan, persediaaan makanan.

Disamping  ke-5 konsep ini ada 8 area tindakan yang telah teridentifikasi untuk mencapai Kesehatan Untuk Semua melalui pelayanan kesehatan primer. Ke-8 area tindakan itu;
  1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan umum dan metoda untuk  mencegah dan pengendaliannya.
  2. promosi persediaaaan makanan dan nutrisi yang sesuai
  3. Peesediaan air yang cukup dan aman dan sanitasi dasar
  4. Kesehatan ibu dan bayi termasuk Keluarga Berencana
  5. Imunisai
  6. Pencegahan dan pengawasan penyakit endemic
  7. Pengawasan yang sesuai terhdap penyakit umum dan cedera
  8. Pengadaan obat essensuial (Morley et al, 1989)

Kesehatan ibu dan anak teridentifikasi sebagai dalam model Kesehatan Untuk Semua sebagai suatu area kunci dalam tindakan untuk mencapai Kesehatan Untuk Semua, tetapi ini juga dapat dilihat bahwa ke-5 konsep yang di garis bawahi mempunyai pengaruh dalam asuhan terhadap ibu melahirakan.

Tindakan yang dilakukan individu, organisasi maupun pemerintah yang mengambil pendekatan kesehatan Untuk Semua akan sangat berlawanan dengan  tindakan yang diambil individu, organisasi dan pemerintah yang menganut pendekatan medical. Begitu pula dalam pelayanan kesehatan ibu bersalin dan bayi.

Pelaksanan HFA masih banyak hambatan termasuk dinegara maju seperti UK, terutama terintegrasinya multi sector untuk mencapai HFA. Suatu tantangan yang besar untuk mencapai HFA ini dalam pelayanan maternitas adalah menurunkan angka Kematian Ibu  yang masih tinggi yaitu 500.000 kematian setiap tahunnya diseluruh dunia. Salah satu cara yang ditempuh dalam meningkatkan pelayanan yang diterima para ibu adalah dengan meningkatkan pengetahuan para dukun Beranak. Dukun beranak adalah orang- orang yang paling banyak bersama wanita selama proses persalinan. Insiatif ini memberikan  pelatihan untuk para dukun dan juga  termasuk Bidan yang melatih para Dukun. 

Tiga pesanan (Unicef) yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan dapat diterapkan pada diseluruh dunia adalah:
  1. Kesehatan untuk ibu dan bayi dapat ditingkatkan secara nyata dengan menjarangkan kehamilan paling sedikit berjarak 2 tahun, dengan menghindari kehamilan sebelum 18 tahun dan membatasi total kehamilan 4 kali.
  2. Mengurangi bahaya bersalin, semua wanita hamil harus pergi ke petugas kesehatan untuk memeriksa antenatal dan semua persalinan harus ditolong oleh orang terlatih.
  3. ASI adalah satu- satunya makanan dan minumaan  bayi yang terbaik. Bayi butuh makanan tambahan disamping ASI apabila bayi sudah berumur 4-6 bulan.

lihat artikel selengkapnya - Model Kesehatan Untuk Semua (Health For All)
iklan2