Kamis, 10 November 2011

iklan0
Hubungan Antara Pelayanan Keperawatan Dengan Kepuasan Pasien Asma Rawat Inap

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Memasuki abad ke 21 yang semakin maju, sudah seharusnya bahwa pendekatan paripurna yang berorientasi pada kepuasan pelanggan atau pasien menjadi strategi utama bagi organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia, agar supaya tetap eksis di tengah persaingan yang semakin ketat. Kawasan Asia Tenggara akan menjadi kawasan perdagangan bebas dan tahun-tahun selanjutnya negara–negara maju di kawasan Asia Pasifik akan membuka pintu lebar-lebar bagi komoditi dan jasa yang dihasilkan. Sebaliknya kita harus membuka lebar-lebar pasar kita untuk menerima komoditi dan jasa dari negara lain. Hal ini berarti bahwa pada saat ini, kita harus mampu bersaing khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan, tidak hanya dengan sesama sejawat dalam negeri namun benar-benar mampu bersaing dengan sejawat dari negara lain (Depkes, 2006).
Kondisi persaingan yang ketat tersebut hal utama yang perlu diprioritaskan oleh jasa pelayanan adalah kepuasan pelanggan agar dapat bertahan, bersaing, mempertahankan pasar yang sudah ada, dan jika memungkinkan bahkan menguasai pasar. Untuk memenangkan persaingan rumah sakit harus mampu memberikan kepuasan kepada pelanggannya, misalnya dengan memberikan pelayanan yang mutunya lebih baik dibanding pesaing dengan harga yang layak, waktu penyampaian jasa lebih cepat (Pohan, 2007).
Penelitian Rosenstein (2005), dengan responden sebagian pasien yang sedang menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di negara maju yaitu AS (Amerika Serikat), sejumlah 150 pasien ditemukan bahwa sekitar 65% pasien memberikan persepsi negatif terhadap pelayanan perawat di rumah sakit dan 53% pasien mengatakan puas dengan pelayanan perawat dan sisanya mengatakan tidak puas. Di Indonesia perkembangan rumah sakit dari tahun ke tahun semakin meningkat yaitu terjadi peningkatan jumlah rumah sakit sebesar 13,1% dan peningkatan jumlah tempat tidur sebesar 9,8 % dalam waktu tujuh tahun. Di sisi lain masalah yang dihadapi rumah sakit semakin komplek termasuk masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia, lebih khusus lagi tenaga keperawatan utamanya yang berkaitan dengan pelayanan pada pasien. Pelayanan pada pasien khususnya dalam berkomunikasi antara perawat dengan pasien dapat menyebabkan kepuasan pada pasien (Depkes RI, 2007).
Penelitian Wirawan (2007) tentang tingkat kepuasan pasien rawat inap terhadap asuhan keperawatan di sebuah rumah sakit di Jawa Timur. Diperoleh informasi, hanya 17% dari seluruh pasien rawat inap yang mengatakan puas terhadap asuhan keperawatan yang diterima, sedangkan 83% mengatakan tidak puas. Penelitian tersebut juga memberikan informasi bahwa keluhan utama adalah terhadap pelayanan perawat, yakni perawat tidak mau berkomunikasi dengan pasien (80%), kurang perhatian (66,7%) dan tidak ramah (33,3%) (Dinas Infokom Jatim, 2008).
Penelitian Pardani di rumah sakit pemerintah klas A di Surabaya tahun 2001, dengan menggunakan 100 orang pasien rawat inap, diperoleh informasi bahwa 50% mengatakan puas terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan, cukup puas 25% dan tidak puas 25%. Damayanti melakukan studi tentang harapan dan kepuasan pasien di sebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya pada tahun 2002. Diperoleh hasil bahwa terhadap dokter pasien lebih mengharapkan keterampilan teknik mediknya (oleh pesien disebut "kepandaian dokter mengobati atau menyembuhkan") sedangkan terhadap perawatnya, pasien lebih mengharapkan kesabaran dan perhatian. Sebanyak 48 orang responden diambil secara proporsional di ruang interna dan Paviliun. Hasil menunjukkan bahwa 41% responden mengatakan kurang puas dengan pelayanan rumah sakit dan sebanyak 59% sisanya mengatakan puas. Khusus terhadap kinerja perawat, keluhan terbesar adalah bahwa perawat jarang menengok pasien bila tidak diminta dan bila dipanggil perawat tidak segera datang (perawat datang sekitar 10 menit) (Arief, 2008).
Berdasarkan survei awal di dapatkan Laporan rawat inap di Puskesmas ............. tahun 2009 didapat jumlah klien asma yang dirawat sebanyak 375 pasien dan hasil studi pendahuluan pada 8 penderita asma di Puskesmas ............. pada tanggal 12 Pebruari 2010 secara wawancara didapatkan bahwa 6 (75%) pasien mengatakan tidak puas dengan pelayanan perawat dan 2 (25%) pasien mengatakan puas dengan pelayanan perawat.
Kurangnya kepuasan pasien terjadi karena dinamika tuntutan pasien yang demikian cepat berubah namun tidak diimbangi dengan kecepatan perubahan pola kerja dan tindakan perawat. Perawat lebih banyak berfokus pada kinerja medik atau teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi dependent atau fungsi pelimpahan dari dokter) padahal pasien nampaknya justru mengharapkan kinerja perawat sesuai normatifnya yaitu lebih berfokus pada aspek yang berkaitan dengan dimensi non teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi independent) (Potter dan Perry, 2005).
Kualitas layanan kesehatan dan kepuasan pelanggan menjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan layanan di rumah sakit. Disisi lain, dalam bentuk pelayanan yang berkembang sekarang ini, pelayanan menjadi semakin rumit dan cukup sulit diukur, karena hasil yang terlihat merupakan dari berbagai faktor yang berpengaruh. Oleh sebab itu, tercapainya pelayanan kesehatan yang baik memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, dalam hal ini kerjasama dari setiap unit yang terkait mengambil peran yang sangat penting (Pohan, 2007).
Memahami pelayanan keperawatan yang diterimanya berhubungan dengan kepuasan pasien di rumah sakit yang bersangkutan, maka penelitian ini bermaksud untuk menganalisis adakah hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma di Puskesmas ..............

1.2 Identifikasi Masalah
Puskesmas ............. merupakan salah satu pelayanan kesehatan masyarakat di lingkungan Kangean dengan pelayanan yang diberikan misalnya poli umum, poli kesehatan ibu dan anak, poli kesehatan gigi dan mulut, poli kusta dan TB, pojok gizi, klinik peduli remaja dan sanitasi, rawat jalan dan rawat inap. Adapaun pasien yang paling banyak saat ini adalah penderita asma yang dirawat di Puskesmas .............. Seiring meningkatnya pasien yang dirawat di Puskesmas Arjasa maka pelayanan kepada pasien perlu ditingkatkan yang merupakan tujuan dalam memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit. Kepuasan pasien merupakan indikator terhadap pelayanan keperawatan, oleh karena itu perawat harus bisa memberikan pelayanan keperawatan yang optimal sehingga meningkatkan kepercayaan pasien kepada perawat, dan juga memberikan kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit.

1.3 Rumusan Masalah.
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumusakan permasalahan sebagai berikut :
Apakah ada hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas .............?

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.139

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Hubungan Antara Pelayanan Keperawatan Dengan Kepuasan Pasien Asma Rawat Inap
iklan2

iklan0
Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Pengisian Partograf Mahasiswa Akbid

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diciptakanlah Visi Indonesia Sehat 2010, yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku, dan dalam lingkungan sehat, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan tersebut, dalam tiga dekade ini telah cukup berhasil meningkatkan derajat kesehatan. Namun demikian derajat kesehatan di Indonesia masih terhitung rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga (Departemen Kesehatan RI, 2005 : 1).
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat maka diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terarah, terpadu, dan berkesinambungan (Departemen Kesehatan RI, 2004: 67).
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya AKB dan AKI. Berdasarkan data BPS tahun 2007, AKB di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup, dan menurut data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 AKI di Indonesia menunjukkan angka 248 per 100.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 AKI maternal menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu mencapai 98 per 1.000 kelahiran hidup, dengan Angka Kematian Bayi tahun 2008 sedikitnya mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008).
Sedangkan rasio kematian maternal pada tahun 2008 di Kabupaten ............. sebesar 148 per 100.000 kelahiran hidup yaitu sebanyak 28 dari 18.873 kelahiran hidup dengan jumlah kasus kematian bayi mencapai 20 per 100.000 kelahiran hidup yaitu sebanyak 385 dari 18.873 kelahiran hidup. (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2009).
Kematian maternal dapat terjadi pada saat pertama pertolongan persalinan. Penyebab utama kematian ibu adalah trias klasik yaitu perdarahan, infeksi, dan eklampsi. Angka kematian maternal dan perinatal yang tinggi juga disebabkan oleh dua hal penting yang memerlukan perhatian khusus yaitu terjadinya partus terlantar atau partus lama dan terlambatnya melakukan rujukan (Manuaba, 1998).
Sebagian besar penyebab kematian dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dalam menolong persalinan, seperti penggunaan partograf dalam persalinan yaitu alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan. Partograf dapat digunakan untuk mendeteksi dini masalah dan penyulit dalam persalinan sehingga dapat sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Instrumen ini merupakan salah satu komponen dari pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap (Depkes RI, 2007).
Dengan penerapan partograf diharapkan bahwa angka kematian maternal dan perinatal dapat diturunkan dengan bermakna sehingga mampu menunjang sistem kesehatan menuju tingkat kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya keterampilan petugas tenaga kesehatan maupun penolong persalinan dalam penggunaan partograf masih kurang diterapkan. Oleh karena itu bagi calon tenaga kesehatan terutama mahasiswa institusi pendidikan kesehatan perlu dipersiapkan sedini mungkin untuk menguasai dan mengaplikasikan kemampuan partograf tersebut sedini mungkin. Dengan harapan mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang pengisian partograf sebagai bahan pengetahuan ketika mereka terjun di masyarakat.
Jenjang pendidikan akademik diploma III merupakan jenjang pendidikan tinggi. Menurut Notoadmojo (2003) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi sikap berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi dan semakin luas pengetahuannya.
Kenyataannya pengetahuan tentang partograf mahasiswa Tingkat II Semester III Program D III Kebidanan STIKes ............. tahun ajaran 2009/2010 masih rendah. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan penyebaran kuesioner kepada 75 mahasiswa tentang pengetahuan partograf diketahui sebesar 64,5% mahasiswa kurang memiliki pengetahuan tentang partograf . Hal juga ini dibuktikan dari uji coba praktek pengisian partograf sesuai dengan kasus persalinan terhadap 10 orang mahasiswa didapatkan 50% mahasiswa yang mampu mengisi partograf dengan benar.
Berdasarkan hal di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Pengetahuan dengan Pengisian Partograf Mahasiswa Tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu Bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan pengisian partograf mahasiswa tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada aspek pengetahuan dengan pengisian partograf, untuk kemudian dicari hubungan keduanya. Penelitian ini dilakukan di tingkat II semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. sebanyak 161 orang.

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan pengisian partograf mahasiswa tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran pengetahuan partograf mahasiswa tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran pengisian partograf mahasiswa tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010
1.4.2.3 Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan pengisian partograf mahasiswa tingkat II Semester III Program Studi DIII Kebidanan STIKes ............. tahun Ajaran 2009/2010.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya untuk dapat menambah referensi perpustakaan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
1.5.2 Bagi Responden
Responden dapat mengetahui dengan jelas pengetahuan dan aplikasi dalam penggunaan partograf.
1.5.3 Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman dalam melakukan penulisan ilmiah, menambah pengetahuan dan wawasan penulis.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.140

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Pengisian Partograf Mahasiswa Akbid
iklan2

iklan0
Hubungan Antara Karakteristik Ibu Post Partum Dengan Pelaksanaan Ambulasi Dini Di RS

iklan1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Bekalang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diciptakanlah Visi Indonesia Sehat 2010, yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku, dan dalam lingkungan sehat, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Departemen Kesehatan RI, 2005)
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007)
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan. Upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Derajat kesehatan yang optimal adalah tingkat kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai suatu saat sesuai dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat dan harus diusahakan peningkatannya secara terus-menerus. (Undang-Undang Kesehatan Nomor 23, 1992, Bab II Pasal 3)
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan secara optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Berdasarkan data WHO (2007) diperkirakan sebanyak 37 juta kelahiran terjadi di kawasan Asia Tenggara setiap tahun, sementara total kematian ibu dan bayi baru lahir di kawasan ini diperkirakan berturut-turut 170 ribu dan 1,3 juta per tahun. Sebanyak 98 persen dari seluruh kematian ibu dan anak di kawasan ini terjadi di India, Bangladesh, Indonesia, Nepal dan Myanmar.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (2007) ditandai oleh tingginya angka kematian ibu di Indonesia tahun 2007 yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan (40 - 60%), infeksi atau sepsis (20 - 30%) dan toksemia ( 20 - 30) sisanya sekitar 5 % disebabkan penyakit lainnya yang memburuk resiko kematian ibu seperti umur terlalu muda atau terlalu tua, jumlahnya anak lebih dari 4, jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Di Propinsi Jawa Barat tahun 2007 AKI maternal menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu mencapai 98 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008). Sedangkan AKI maternal pada tahun 2008 di Kabupaten .............. sebanyak 148 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu adalah karena perdarahan (25%), eklampsi (7,14%), infeksi (7,14%), dan faktor lain (60,71%). (Dinas Kesehatan Kabupaten .............., 2009).
Berdasarkan data BRSUD 45 Kuningan tahun 2008, angka kematian ibu sebanyak 35 per 1.000 kelahiran hidup dan 17,8% diakibatkan perdarahan. Jika dibandingkan maka angka kematian ibu dan penyebab perdarahan di RSUD .............. lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian ibu dan perdarahan di BRSUD 45 Kuningan.
Perdarahan dapat terjadi pada masa kehamilan maupun setelah melahirkan atau perdarahan post partum yang dapat menyebabkan kematian. Sehingga sangat diperlukan perhatian besar pada ibu post partum. Dengan pelayanan kesehatan yang optimal diharapkan ibu post partum mendapatkan pemulihan seperti sebelum melahirkan. Perawatan yang selama 24 jam bersama pasien memegang peranan penting dalam perawatan ibu post partum. Perawatan ibu post partum meliputi: pemenuhan sehari-hari, penanganan rasa kedinginan yang kadang dirasakan ibu post partum tanpa sebab yang pasti, memberi rasa nyaman, memeriksa payudara, uterus, lokea, perineum (luka episiotomi dan hemoroid), kandung kencing dan psikis ibu, serta menganjurkan untuk ambulasi sedini mungkin (Saunder, 2002)
Ambulasi dini salah satunya adalah dalam bentuk senam nifas yang sangat penting untuk mengembalikan tonus otot-otot perut yang mendukung perut bagian bawah. Kontraksi otot-otot perut akan membantu proses involusi yang mulai setelah plasenta keluar segera setelah melahirkan. Ambulasi secepat mungkin sangat diperlukan dalam proses involusi (Saunder 2002).
Namun kenyataannya, masih banyak ibu post partum yang berperilaku kurang memperhatikan ambulasi dini. Menurut Green (Notoatmodjo, 2007), perilaku ibu dalam kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terwujud dalam pengetahuan, keyakinan dan nilai yang dianut ibu.
Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD .............. oleh peneliti pada bulan Januari tahun 2010 diketahui cakupan ambulasi dini sebesar 40% yaitu dari hasil kuesioner dan wawancara kepada 10 ibu post partum didapatkan hanya 4 ibu yang melaksanakan ambulasi dini. Masalah ambulasi dini ini di objek penelitian salah satunya dipengaruhi oleh faktor jenis persalinan dan faktor internal yang berhubungan dengan karakteristik individu ibu post partum meliputi pendidikan, umur, pekerjaan, dan faktor lainnya seperti dukungan dan peran keluarga terhadap pelaksanaan ambulasi dini.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Karakteristik Ibu Post Partum Dengan Pelaksanaan Ambulasi Dini Di RSUD .............. Periode Maret- Mei tahun 2010”.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalahnya adalah bagaimana hubungan karakteristik ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010?

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran pendidikan ibu post partum di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran umur ibu post partum di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.3 Diketahuinya gambaran pekerjaan ibu post partum di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.4 Diketahuinya gambaran jenis persalinan ibu post partum di RSUD .............. tahun periode Maret – Mei 2010.
1.3.2.5 Diketahuinya gambaran pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.6 Diketahuinya hubungan antara pendidikan ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.7 Diketahuinya hubungan antara umur ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.8 Diketahuinya hubungan antara pekerjaan ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.
1.3.2.9 Diketahuinya hubungan antara jenis persalinan ibu post partum dengan pelaksanaan ambulasi dini di RSUD .............. periode Maret – Mei tahun 2010.

1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada karakteristik ibu post partum meliputi faktor pendidikan, umur, pekerjaan dan jenis persalinan, kemudian dicari hubungannya dengan masalah pelaksanan ambulasi dini.

1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi RSUD
Dapat dijadikan masukan dan saran dalam peningkatan mutu pelayanan kebidanan/maternitas.
1.5.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan khususnya pelaksanaan ambulasi dini ibu post partum.
1.5.3 Bagi Ibu Post Partum
Mengetahui pentingnya ambulasi dini terutama senam nifas pada ibu-ibu post partum sehingga proses involusi dapat berjalan lancar.
1.5.4 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang teori pelaksanaan ambulasi dini serta mengetahui kesenjangan yang terjadi antara teori yang diajarakan selama perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi di tempat penelitian.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.138

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Hubungan Antara Karakteristik Ibu Post Partum Dengan Pelaksanaan Ambulasi Dini Di RS
iklan2

iklan0
Hubungan Sikap Ibu Terhadap Poskesdes, Tabulin Dan Dukungan Keluarga Dengan Pertolongan Persalinan Di Desa

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia. (Depkes RI, 2009)
Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 2008)
Menurut Suparmanto (2007) ada 4 (empat) strategi utama Depkes dalam pembangunan kesehatan. Keempat strategi itu 1) menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat; 2) meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas; 3) meningkatkan system surveilans, pemantauan, dan informasi kesehatan; 4) meningkatkan pembiayaan kesehatan. Dari seluruh startegi itu dibuat 17 sasaran prioritas dalam upaya mendukung pencapaian strategi. Diantaranya yaitu seluruh desa menjadi desa siaga; setiap orang miskin mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu; setiap bayi, anak, ibu hamil, dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit; serta tersedia tenaga kesehatan yang kompeten.
Pembentukan desa siaga untuk menunjang upaya penurunan AKI dan AKB serta mengatasi permasalahan kesehatan lain. Hal ini dilakukan dengan menempatkan bidan dan melatih para kader dari masyarakat. Saat ini sedang dilakukan inventarisasi desa-desa mana yang ada dan tidak ada bidan. Depkes akan merekrut dan menempatkan bidan di desa yang tidak ada bidan. Tahun 2006 sudah dibentuk 12.000 desa siaga. Tahun 2007 ditargetkan terbentuk 30.000 desa siaga, tahun 2008 bertambah 16.000 desa siaga, dan tahun 2009 ada 12.000 desa siaga. Keterbatasan tenaga kesulitan untuk mencapai sasaran, misalnya penurunan AKI adalah keterbatasan tenaga dan infrastruktur. (Moedjiono, 2007)
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya AKI, dan AKB. Berdasarkan data SDKI 2007 AKI di Indonesia menunjukkan angka 228 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut data BPS tahun 2007, AKB di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup, dan menurut (Depkes RI, 2008)
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 AKI maternal menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu mencapai 98 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan AKB mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes Prov. Jabar, 2008)
Sedangkan jumlah kematian ibu pada tahun 2008 di Kabupaten ............ sebanyak 28 dari 18.873 kelahiran hidup dan AKB mencapai 20 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dilihat dari penyebab kematian ibu, terbanyak disebabkan oleh perdarahan (25%), eklampsi (7,14%), infeksi (7,14%) dan lain-lain (60,71%) (Dinkes Kab. ............, 2009).
Hasil dari beberapa studi serta pengamatan atas peristiwa kematian ibu maternal, mengungkapkan bahwa penyebab utama kematian dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung, penyebab langsung biasanya terkait erat dengan kondisi kesehatan ibu sejak proses kehamilan, proses persalinan dan proses pasca persalinan. Sedangkan penyebab tidak langsung lebih terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, geografi serta perilaku budaya masyarakat yang terangkum dalam 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering/rapat) dan 3 Terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat merujuk, dan terlambat mendapat pelayanan). (Depkes RI, 2008)
Pada penelitian lainnya mengungkapkan adanya hubungan positif yang sangat erat secara statistik antara penolong persalinan oleh tenaga kesehatan dengan angka kematian maternal. Semakin tinggi cakupan pertolongan kesehatan oleh tenaga kesehatan yang kompeten maka angka kematian ibu maternal akan mengalami penurunan dan sebaliknya bila cakupannya rendah maka angka Maternal Mortality Rate (MMR) akan meningkat. (Depkes RI, 2008)


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.137

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Hubungan Sikap Ibu Terhadap Poskesdes, Tabulin Dan Dukungan Keluarga Dengan Pertolongan Persalinan Di Desa
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.135

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga (Suami) Tentang Infertilitas Di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.136

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga (Suami) Tentang Infertilitas Di Kelurahan
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas di Desa

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh ± 400 juta pasangan (Siswono, 2003).
Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas karena kekakuan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction). Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus (81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).
Saat ini diketahui diketahui bahwa sekitar 10% pasangan usia subur yang telah menikah menderita infertilitas primer, 10% lainnya mengalami infertilitas sekunder, yaitu ketidakberhasilan untuk hamil lagi setelah mempunyai satu atau dua anak. Dalam masalah infertilitas pasangan ini, diketahui bahwa 64% penyebabnya datang dari pihak istri, yaitu 15% karena tuba, 21% karena ovulasi, 8% karena endometrosis, 8% karena masalah vagina, serviks, korpus dan endometrium, 8% psikogenetik, dan 15-20% penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), 16% penyebab yang multifaktorial dari suami maupun istri (Henderson, 2006).
Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Halini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengelami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali pernah hamil.
Beberapa daerah di Indonesia, wanita seringkali disalahkan menjadi penyebab infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian PERSI di Jakarta, 36% infertilitas diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.
Pada tahun 1985 diperoleh data jumlah infertilitas di Indonesia sebanyak 12% pasangan, jumlah ini sama dengan 3 juta pasangan menikah, dari jumlah tersebut 10% mengalami infertilitas primer, atau belum terjadi kehamilan walaupun pasangan tersebut mengalami bersenggama teratur dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. 10% lainnya akibat infertilitas primer, atau belum berhasil lagi untuk hamil, umumnya 32,7% hamil dalam satu bulan 57% hamil dalam 3 bulan, 72,1% hamil dalam waktu 6 bulan, 85% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan (Robert, 2003).
Pada bulan April-Mei 2011 di Desa .......... Kecamatan .......... ditemukan jumlah pasangan yang menderita infertilias sebanyak 35 orang dari lingkungan Desa .......... yang jumlah penduduknya sekitar 924 rumah tangga.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagamanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas Di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagamanakah gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Ibu
Sebagai sumber informasi khususnya bagi ibu-ibu tentang seberapa banyak penyebab infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai bahan penelitian selanjutnya.
D.3. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama pendidikan dan menambah wawasan dan pengalaman. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan D.III Keperawatan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.134

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas di Desa
iklan2

iklan0
Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Situasi dan kondisi Indonesia dalam bidang kependudukan saat ini masih sangat memprihatinkan. Dengan jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 215 juta jiwa. Pada tahun 2007 menduduki urutan ke-4 dari seluruh dunia.kepesatan penduduk Indonesia tersebut merupakan fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Keadaan ini sangat mempengaruhi masalah kualitas sumber daya manusia karena masih dijumpainya penduduk yang sangat miskin, yang sangat memerlukan bantuan untuk sekedar hidup.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah ini adalah dengan menggalakkan dan mengaktifkan kembali program keluarga berencana nasional Indonesia untuk pembangun-an yang berorientasi pada masa depan yang lebih baik.
Pembangunan Keluarga Berencana Nasional diarahkan kepada terwujudnya “Keluarga Berkualitas 2015” yang pada hakikatnya dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang mempunyai anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya (BKKBN, 2006).
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi yang mengandung hormon untuk mencegah terjadinya konsepsi. Keuntungan dari pemakaian AKDR ini selain lebih efektif, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI bagi ibu yang menyusui, penyulit tidak terlalu berat, dan pulihnya kesuburan setelah pencabutan alat kontrasepsi berlangsung baik (Manuaba, 1998).
Berdasarkan data dari Negara Amerika Serikat jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR di dunia 13,6% dan di negara maju PUS yang menggunakan alat kontrasepsi masih rendah sebanyak 7,6% dan di negara-negara yang sedang berkembang sudah mengalami peningkatan dengan jumlah 14,5% (Statistik, 2008).
Dari hasil laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) melaporkan jumlah PUS yang telah menggunakan kontrasepsi AKDR sebanyak 4,8%, sedangkan di Medan jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sebanyak 2,586%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih sangat rendahnya minat PUS terhadap AKDR (Statistik, 2008).
Di wilayah Pemko ......... tercatat jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sejumlah 17,10% dan data yang diperoleh dari Kelurahan ......... mendapat urutan ke-4 menggunakan AKDR sebanyak 99 orang (1,5%) dan dilaporkan jumlah PUS sebanyak 1,605 orang.
Rendahnya minat PUS terhadap AKDR tentunya tidak terlepas dari rendahnya dukungan suami untuk menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Sehingga sangat perlu pemahaman yang baik tentang AKDR bagi pasangan usia subur (Depkes, 2000).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu terhadap AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan tahun 2011?”

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu Tentang Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan paritas.
d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pekerjaan.
e. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengalaman dan mengembangkan pengetahuan penulis dalam melakukan penelitian
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan di perpustakaan dan sebagai bahan masukan bagi peneliti yang akan datang.
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Menambah pengetahuan bagi Ibu di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.133

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gerakan Nasional peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Upaya penting ini, keberhasilannya perlu di dukung dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat. Para ibu, sebagai pelopor peningkatan kualitas sumber daya Indonesia, patut menyadari dan meningkatkan pengetahuannya untuk menunjang gerakan ini (Winkjosostro,1999).
Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui bayi yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang ke-2 dan seterusnya. Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapar berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas (Ziemeretal,1999).
Dengan mengikuti dan mempelajari segala pengetahuan mengenai
laktasi, diharapkan setiap ibu hamil, bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal, sehingga bagi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (Winkjosostro,1999).
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan hidup karena kehadiran buah hatipun terjadi. Prioritas pertama saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Masa-masa menyusui tersebut sering kali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila ibu memberikan ASI-nya dengan cara yang benar (Winkjosostro,1999)
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susupun mengalami sumbatan. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran. Penyebab penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang buruk. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada payudaranya (Sally I, 2003).
Selalu pastikan tindakan menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Pengurutan sebelum laktasi adalah salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui dapat pula membantu membuat posisi menyusui menjadi lebih baik (Henderson Christine, 2005).
Ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko mastitis yaitu teknik menyusui yang buruk mengakibatkan pengeluaran ASI yang tidak efisien, pekerjaan diluar rumah yang menyebabkan interval menyusui yang panjang sehingga kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat dan trauma pada payudara karena penyebab apapun yang dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu sehingga dapat menyebabkan mastitis (Sally I, 2003).
Organisasi kesehatan dunia (2008) memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American Society memperkirakan 241.240 wanita Amerika Serikat terdiagnosis mastitis. Sedangkan di Kanada jumlah wanita yang terdiagnosis mastitis adalah 24.600 orang dan di Australia sebanyak 14.791 orang.
Di Indonesia diperkirakan wanita yang terdiagnosis mastitis adalah berjumlah 876.665 orang dan di Sumatera Utara berkisar 40-60% wanita terdiagnostik mastitis (http://www.kompas.online.com/2008).
Berdasarkan hasil survei lapangan ditemukan jumlah penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2008 (Januari-Desember) sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan ibu post partum tentang mastitis terutama dalam teknik menyusui yang baik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis berkeinginan untuk mengnagkat permasalahan tentang “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pendidikan
3. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu post partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan informasi.

D. Manfaat Penelitian

D.1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian yang selanjutnya tentang mastitis dan dapat dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa/i Akbid/Akper ......... ..........
D.2. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi ibu post partum untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan dan pengobatan mastitis.
D.3. Bagi Petugas Kesehatan
Masukan bagi petugas kesehatan di tempat penelitian untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ..........
D.4. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengolahan penulis dalam hal melakukan suatu penelitian khususnya dalam masalah pengetahuan ibu post partum tentang mastitis di Klinik Bidan ......... ..........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.132

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Pada Masa Nifas Tentang Mastitis

iklan1
A. LATAR BELAKANG
Sejak empat dekade yang lalu hingga saat ini jumlah wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang. Jumlah terendah terjadi di tahun¬tahun awal 70-an ketika kurang dari 40% yang memilih Air Susu Ibu (ASI), dan pada minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada bayinya. Sejak itu kemudian ada kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa ASI dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga dan radang selaput otak (meningitis) bakteri. Juga mampu melindungi terhadap diabetes, kegemukan dan asma. Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam mencegah terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Bukan hanya itu saja, sang ibu juga memperoleh manfaat yang tidak kalah besarnya. Menyusui mampu untuk menurunkan risiko untuk menderita kanker indung telur dan kanker payudara, dan menurunkan risiko terjadinya patah tulang panggul dan osteoporosis (keropos tulang) saat menopause nantinya. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan akan perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid Arthritis hingga 30% (baby-kids.blogspot.com, 2005).
Pada tahun 2003 Universal Childern Foundation (UNICEF) menyatakan bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sampai usia enam bulan dapat mencegah kematian 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun. Suatu penelitian di Ghana yang diterbitkan jurnal Pediatrics menunjukkan, 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi (Kompas, 2007).
Menurut Wisnuwardhani (2005) masalah yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum persalinan (periode antenatal), masa pascapersalinan dini (masa nifas/laktasi), dan masa pascapersalinan lanjut. Masalah menyusui dapat timbul pula karena keadaan-keadaan khusus. Salah satu masalah yang cukup serius selama masa menyusui yaitu peradangan pada payudara atau disebut juga mastitis. Mastitis adalah peradangan yang terjadi pada payudara wanita menyusui dalam masa nifas. Bagian yang terkena mastitis umumnya menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas, selain itu temperatur badan ibu meninggi dan kadang disertai menggigil. Kejadian ini biasanya terjadi 1-3 minggu setelah melahirkan, akibat lanjutan dari sumbatan saluran susu. Bila mastitis berlanjut, dapat terjadi abses payudara. Ibu tampak sakit lebih parah, payudara lebih merah dan mengkilap, benjolan tidak lagi sekeras pada mastitis, tetapi mengandung cairan (pus).
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui yang buruk merupakan penyebab penting terjadinya mastitis. Mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi dengan atau tanpa kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan bervariasi dan sedikit sampai 33% wanita menyusui, tetapi biasanya di bawah 10% (WHO, 2003).
Pada tahun 2005 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa jumlah kasus infeksi payudara yang terjadi pada wanita seperti kanker, tumor, mastitis, penyakit fibrocustic terus meningkat, dimana penderita kanker payudara mencapai hingga lebih 1,2 juta orang yang terdiagnosis, dan 12% diantaranya merupakan infeksi payudara berupa mastitis pada wanita pasca post partum. Data ini kemudian didukung oleh The American Cancer Society yang memperkirakan 211.240 wanita di Amerika Serikat akan didiagnosis menderita kanker payudara invasive (stadium I-IV) tahun ini dan 40.140 orang akan meninggal karena penyakit ini. Sebanyak 3 persen kasus kematian wanita di Amerika disebabkan oleh kanker payudara. Sedangkan di Indonesia hanya 0,001/100.000 angka kesakitan akibat infeksi berupa mastitis (Depkes RI, 2007).
Masalah-masalah menyusui yang sering terjadi adalah putting susu lecet atau nyeri. Sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada puttingnya dan payudara bengkak. Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferus dan mastitis serta abses payudara yang merupakan kelanjutan atau komplikasi dari mastitis yang disebabkan karena meluasnya

4 peradangan payudara. Sehingga dapat menyebabkan tidak terlaksananya ASI eksklusif (Soetjiningsih, 1997).
Menurut hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0 – 2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi seperti infeksi gastro-intestinal, pernafasan dan virus (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Dari hasil survei awal yang penulis lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Desember 2007 hingga April 2008 diperoleh data bahwa ibu yang mengalami mastitis berjumlah 21 orang (19,44%) dari total ibu post partum yang ada yaitu sebanyak 108 orang.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Pada Masa Nifas Tentang Mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008”
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1. Diketahui bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui yang buruk merupakan penyebab penting terjadinya mastitis.
2. Diperoleh sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada puttingnya dan payudara bengkak
Didapatkan jumlah ibu post partum yang mengalami mastitis sebanyak 21 orang (19,44%).

C. MASALAH / PERMASALAHAN
1. Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya pengetahuan ibu-ibu post partum pada masa nifas tentang mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
2. Permasalahan
a. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengertian mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
b. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan penyebab mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
c. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pencegahan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
d. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengobatan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
e. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan tindakan terhadap mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?

D. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui “Pengetahuan Ibu Post Partum pada masa nifas Tentang Mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008”
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengertian mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan penyebab mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
c. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pencegahan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
d. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengobatan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
e. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas
berdasarkan tindakan terhadap mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.

E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan ini dapat bermanfaat bagi:
1. Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
2. Petugas Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat khususnya ibu-ibu post partum (menyusui) pada masa nifas mengenai pentingnya pengetahuan mengenai infeksi yang dapat terjadi pada saat menyusui.
3. Petugas Kesehatan
Diharapkan petugas kesehatan dapat lebih meningkatkan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu hamil dan post partum pada masa nifas tentang manfaat dan keuntungan menyusui bagi bayinya dan cara menyusui yang benar.
4. Penulis
Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.131

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Pada Masa Nifas Tentang Mastitis
iklan2